Minggu, 04 Oktober 2015

Nek, itu siapa?

"Nek, itu siapa?", tanya Nina sambil menghentikan langkah kecilnya yang hanya beralaskan sandal jepit usang di depan sebuah baliho besar yang baru terpasang di perbatasan kota. "itu salah satu pejabat yang akan dipilih menjadi walikota cu, ayo kita jalan lagi", jawab Nek Siti sambil sedikit menarik lengan cucu semata wayangnya yang telah menjadi yatim piatu sejak dua tahun yang lalu.
Nina kembali melangkah mengikuti sang nenek yang telah berjalan lebih dahulu. Sesekali Nina berlari kecil untuk mensejajarkan langkah nenek yang merupakan satu-satunya keluarga yang ia miliki di dunia ini. "Nek, bapak yang di gambar besar tadi itu orang baik ya nek?", ujar Nina dengan nafas terhengah-hengah di panasnya mentari.

Masih dengan langkah tertatih tapi cepat Nek Siti terdiam dan memutar otak untuk dapat menjawab pertanyaan cucu nya yang terkadang menurutnya sudah jauh dari pertanyaan seorang anak berumur 4 tahun. "Iya, beliau orang baik!", jawab Nek Siti dengan sedikit gemetar. "Nenek kenal dengan bapak itu?", Nina kembali menghujankan tanya nya dan langsung di jawab gelengan kepala oleh Nek Siti.
"Kalau nenek tidak kenal, kenapa nenek bilang bapak itu orang baik? apa karena ia tersenyum di gambar besar itu?", kembali hujan pertanyaan terlontar dari bibir gadis kecil yang sekarang menghentikan langkah nya tanda tidak puas akan jawabab nek Siti.
Nek Siti menghela nafas panjang dan ikut menghentikan langkahnya, ini bukan yang pertama Nina mengajukan pertanyaan yang sulit sekali ia jawab, setiap pertanyaan yang dijawab akan menjadi satu bahkan lebih pertanyaan berikutnya dari cucu nya yang sekarang beranjak besar.
"Untuk menjadi walikota syaratnya haruslah orang baik", jawab nek Siti sambil membungkukkan tubuhnya menghadap ke wajah polos cucu tersayang sambil terbersit di hati nya tanya mendalam, benarkah yang menjadi calon walikota tersebut orang baik seperti yang ia kata kan kepada sang cucu.

"ayo kita bergegas, nanti kita ketinggalan , bukankah kamu ingin punya sepatu baru?", ujar Nek siti berusaha mengalihkan percakapan. "iya nek! hmm,, nek,, Nina ingin menjadi walikota, bisa kah", jawab Nina sambil menggandeng tangan nenek Siti, dan Nek siti pun kembali menjawab dengan anggukan sembari meneruskan perjalananannya menuju ke pasar kalangan.

---------
Hanya tulisan di tanggal 7 November 2012
terinspirasi dari sebuah percakapan yang tertangkap dan terjadi  di pinggir jalan kota Prabumulih pada Minggu pagi.
 
;